Rahmawati Bustamam

Rahmawati Bustamam

Recipient of Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) Program, Harvard Kennedy School, Harvard University, 2018-2019

 

Hai, kenalkan nama saya Rahmawati. Saya berasal dari provinsi yang menjadi nol kilometernya Indonesia dan terletak di ujung baratnya. Ayo, apakah itu? Iya, jawabannya adalah Aceh! Saya adalah penerima beasiswa Fulbright program FLTA (Foreign Language Teaching Assistant) di Harvard Kennedy School, Harvard University tahun 2018-2019.  Ini merupakan program non-degree untuk mengajar Bahasa Indonesia dan juga belajar di kampus Harvard selama satu tahun akademik. Jadi, dalam satu kesempatan, saya bisa mengalami bagaimana rasanya menjadi pengajar dan juga mahasiswa. Menarik sekali, bukan? Bagaimana ceritanya saya bisa lulus di sini dan apa saja kegiatan saya di sini? Baca terus cerita ini ya.

Mari kita putar waktu terlebih dahulu ke beberapa tahun silam. Setelah lulus di jurusan FKIP Bahasa Inggris di universitas jantung hati rakyat Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala, saya mulai berbagi ilmu yang saya miliki dengan mengajar di sekolah. Tidak hanya mengajar di Aceh, saya pun pernah mengajar di Semarang selama 3 tahun dan di Turki selama 7 bulan. Mengapa saya bisa mengajar di sana? Wah, mungkin kita harus punya sesi khusus untuk bercerita tentang itu. Hahaha...

Dari dulu, memang sudah menjadi salah satu impian saya untuk menimba ilmu di luar negeri sekaligus jalan-jalan, lebih tepatnya sih, sebaliknya, hahaha. Nah, jalur yang mungkin saya tempuhi untuk sekarang adalah beasiswa. Jadi sedari masa kuliah, saya sudah mulai mencari beasiswa ke berbagai negara: Australia, Jepang, Turki, Malaysia, tapi sayangnya tidak lolos di manapun. Akan tetapi itu tidak membuat saya putus asa. Di sela-sela kesibukan saya mengajar sekaligus menjadi wali kelas, saya terus berusaha untuk melengkapi dan mengirim berkas beasiswa.

Hingga suatu hari, saya membaca sebuah pesan di salah satu grup WA tentang beasiswa Fulbright program FLTA. Mendengar namanya saja sudah membuat nyali saya menciut. “Aduh, lulus gak ya kira-kira?” Hati kecil saya bertanya-tanya. Katanya sih beasiswa ini sangat prestigious, konon sangat susah menembusnya. Saya pun berpikir, untuk apa saya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak jelas, kenapa saya tidak mencoba dulu? Apalagi saya sudah mempunyai hampir semua persyaratannya. Tidak rugi juga, kan?

Singkat cerita saya mampu melewati 5 tahap proses penyeleksian. Apa saja? Yang pertama adalah penyeleksian berkas, yang ke dua adalah wawancara di kantor Aminef di Jakarta, berikutnya penyeleksian berkas online ke IIE di Amerika, lalu mengikuti TOEFL iBT, dan yang terakhir adalah merangking kampus untuk penempatan. Semua proses itu memakan waktu selama 1 tahun 1 bulan. Memang sangat lama, dan sangat menguji kesabaran, apalagi dalam beberapa bulan tidak ada kabar apapun tentang kelanjutan beasiswa ini. Sering saya bertanya ke diri sendiri, lulus gak ya? Untungnya saya sempat berkenalan dengan beberapa kandidatnya waktu di wawancara, jadi kami bisa membuat grup untuk saling berbagi informasi dan curhat pastinya. Ketika satu per satu orang mendapatkan hasil pengumumannya, jantung ini mau copot rasanya karena memikirkan nasib yang masih kabur. Apalagi saya termasuk awardee yang agak telat mendapatkan hasil pengumuman. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana bahagianya saya ketika dinyatakan lulus, tidak tanggung-tanggung, lulusnya di Harvard lagi. Sungguh di luar dugaaan. Ahamdulillah.

Ada cerita menarik dalam perangkingan kampus. Saya mendapatkan 4 kampus yang harus saya rangkingkan untuk penempatan, yaitu Columbia University, Harvard Kennedy School, University of Georgia, dan Indiana University. Ketika mendapatkan undangan itu, mata saya langsung tertuju ke Harvard. Wah, saya ingin di sini. Bukannya memilihnya nomor satu, malah saya menempatkannya di nomor tiga hanya karena saya takut tidak lulus di situ dan ditempatkan di kampus yang kurang saya minati. Ini karena nilai TOEFL saya terlampau sedikit dibandingkan dengan FLTA di Harvard sebelumnya. Gosipnya sih, Harvard memilih kandidat yang bernilai TOEFL tinggi. Tapi rupanya gosip itu terpatahkan oleh saya, wahai pembaca yang budiman. Ini ibarat kata pepatah, “kalau jodoh tak kan kemana”.

Sekarang, selain mengajar Bahasa Indonesia dan mengaudit mata kuliah, saya berkesempatan untuk memperkenalkan budaya kesenian Indonesia secara aktif di salah satu grup tari yang baru saja dirintis, yaitu Boston Cenderawasih. Bersama teman-teman lainnya yang kebanyakannya adalah mahasiswa dari Harvard juga dan dari MIT, sejauh ini kami telah tampil dua kali di Boston. InsyaAllah kami pun sedang mempersiapkan untuk penampilan berikutnya di bulan Mei. Saya dan sembilan FLTA lainnya dari Indonesia juga terpilih untuk menampilkan salah satu tarian dari Aceh, “Likok Pulo”,  di Fulbright FLTA Mid-Year Conference di Washington DC yang dihadiri oleh 405 FLTA dari 55 negara. Tidak hanya itu, saya juga berkesempatan memberi presentasi tentang Indonesia di departemen tempat saya mengajar. Sungguh, ini merupakan sebuah kebanggaan bagi saya bisa menjadi duta budaya dari Indonesia.

Selama menjalani program ini, ada perubahan besar dalam hidup saya. Saya merasa mengenal bangsa Indonesia lebih baik, dari segi bahasa, budaya, maupun isu-isu sosial lainnya, seperti politik. Saya harus selalu meng-update topik-topik tersebut guna bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Ya, sebagian siswa saya adalah mahasiswa graduate yang ingin meneliti tentang sastra, politik, isu Hak Asasi Manusia (HAM), dan isu-isu lainnya di Indonesia. Jadi, aneh sekali jika saya apatis terhadap Indonesia sedangkan siswa-siswa saya tertarik.

Jika saya renungkan sekarang, sebenarnya program ini tidak hanya bertujuan untuk mengenal Amerika lebih baik, tapi juga mempelajari tentang negara sendiri lebih banyak. Tanpa saya sadari, ini menambah kecintaan saya terhadap Indonesia, dan saya ingin terus menjadi bagian dalam memajukan bangsa kita, bangsa Indonesia.

Itulah sekelumit kisah saya, semoga bisa menginspirasi Anda semua. Jika ingin mengetahui kisah lebih banyak lagi, silakan mampir ke channel YouTube saya, RahmaPo, dan juga Instagram saya Rahmawati Bustamam.

 


< Back to the 'Education Corner' main page

< Back to the 'Apa Kata Mereka' page